Refleksi 28 Tahun KSBSI, Elly Rosita Silaban: Ambil Tantangan, Jangan Diam Digilas Zaman

Refleksi 28 Tahun KSBSI, Elly Rosita Silaban: Ambil Tantangan, Jangan Diam Digilas Zaman

KSBSI,ORG: Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) baru saja merayakan ulang tahunnya. Tepatnya serikat buruh ini lahir pada 25 April 1992, dan tahun ini genap 28 tahun mengabdi untuk bangsa dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan buruh.

Baca juga: 

ksbsi.orgElly Rosita Silaban Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) dalam catatan refleksinya menyampaikan perayaan ulang tahun KSBSI yang diadakan pada 25 April 2020 dilakukan dengan kesederhanaan.

“Cukup dengan doa, syukur dan pengharapan agar KSBSI tetap optimis maju. Karena tidak ada kata mundur untuk berjuang bagi buruh yang teraniaya,” tegasnya, Jakarta, 26 April 2020.

Dia tak bisa menyembunyikan rasa sedih, akibat pandemi Covid-19 yang tengahmengancam masyarakat dunia, keluarga besar KSBSI tidak bisa merayakan ulang tahunnya dengan cara kebersamaan. Karena saat ini semua harus mengikuti himbauan pemerintah, tidak boleh berkumpul untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Bertambahnya usia KSBSI, ia yakin roh perjuangannya semakin kokoh menghadapi segala persoalan internal dan eksternal. Hal ini terbukti, ketika tahun 2013 organisasi ini dihantam gugatan salah satu pendirinya, KSBSI tetap menempatkan posisinya sebagai serikat buruh yang militan dan tumbuh menjamur sampai ke pelosok daerah.

“Sampai hari ini bendera KSBSI tetap tegak berkibar. Pengurus dan anggota tetap solid dan diperhitungkan dari tingkat nasional sampai internasional,” jelasnya.

Kenapa KSBSI sampai hari ini tetap diperhitungkan? Elly mengatakan karena KSBSI sebagai serikat buruh terdidik, independen, tidak berafiliasi dengan partai politik. Sehingga tetap kritis dan memberikan solusi terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro buruh.

“KSBSI juga satu-satunya konfederasi yang mencetuskan solusi hubungan industrial melalui dialog sosial tanpa meninggalkan ciri khas pergerakan “aksi” apabila sudah tidak menemui jalan keluar,” ujarnya.

Kemudian KSBSI adalah satu-satunya konfederasi yang berafiliasi ke International Trade Union Confederation di regional-Asia Pacific dan di level internasional yang pertama sekali menerima tantangan dan implementasi stop kekerasan di dunia kerja.

Yaitu Convensi ILO No. 190, disahkan dalam International Labour Conference di Geneva, Switzerland pada Juni 2020 dengan membuktikan pada kongres di bulan yang sama. Tepatnya pada 30 Juni 2019 memilih sosok perempuan menjadi presiden KSBSI, pertama sekali dalam sejarah perburuhan di Indonesia seorang perempuan memimpin konfederasi besar yang berafiliasi ke Internasional.

Buang Sikap Ego

Ia menyampaikan organisasi yang dipimpinnya sekarang menghadapi dua persoalan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Pertama pandemi  Covid-19 yang menghantam seluruh urat nadi perekonomian dunia. Kedua, Rancangan Undang-Undang (RUU) omnibus law, khususnya dalam Kluster Ketenagakerjaan.

Dua permasalahan ini dianggapnya menjadi pil pahit jika tidak disikapi oleh KSBSI. Sebab dampak pandemi Covid-19 telah banyak menghilangkan pekerjaan buruh, karena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Dan belum ada yang memastikan kapan wabah virus yang membahayakan ini kapan berakhir.

“Otomatis buruh yang telah bergabung menjadi anggota KSBSI berkurang akibat dampak Covid-19,” terangnya. 

Terkait omnibus law Cipta Kerja (Ciker) Elly menilai RUU ini dikuatirkan akan membunuh masa depan buruh dari sebelumnya. Sebab ada beberapa pasal dalam RUU Ciker, yang jelas merugikan hak buruh. Seperti sistem outsourcing (kerja kontrak) yang diperluas, kontrak seumur hidup, upah sektoral dan kabupaten/kota ikut dihilangkan.

“Termasuk tidak ada sanksi bagi pengusaha apabila melakukan pelanggaran terhadap kebebasan berserikat dalam perusahaan dan masih banyak lagi,” lugasnya.

Selain itu, Elly menghimbau pengurus agar KSBSI tidak lagi larut dalam persoalan konflik internal yang berkepanjangan karena ambisi memperebutkan jabatan. Sebab konflik internal yang berlarut hanya membuat buruh menjadi tidak mau bergabung ke KSBSI.

“Akar penyebab konflik internal yang berkepanjangan ini karena saling menanamkan egoisme dan kecemburuan. Sehingga melahirkan kebencian. Jadi sudahi conflict of interest yang membuat kita lupa mengurus buruh. Tapi dibalik itu punya kepentingan melayani elit elit untuk sebuah posisi,” tegasnya. 

Dia juga menegaskan agar semua pengurus tidak menghianati buruh. Seperti melakukan persetujuan PHK dari perusahaan demi memperkaya diri sendiri. Disisi lain, ia tak memungkiri jika masih banyak pengurus waktu memperjuangkan hak anggota, namun kesejahteraannya masih terbatas.

“Cita-cita KSBSI untuk mensejahterahkan pengurusnya memang mimpi yang belum terwujud hingga saat ini. Alasan utamanya karena minimnya iuran dan tidak sebanding dengan jumlah anggota, sehingga masih sangat sulit untuk terlepas dari donor,” ungkapnya.

Terakhir, dia mengingatkan semua pengurus KSBSI harus kreatif, tidak diam ditempat. Semua harus mengasah diri dan menerima tantangan revolusi industri 4.0. KSBSI harus mampu menjadi mitra dialog sosial untuk mendesain kebijakan yang menang sama-sama dan bisa keluar dari zona nyaman.

“Ambil tantangan, jangan mau digilas zaman. Jangan pernah berhenti belajar, membaca, tetap pupuk rasa kekeluargaan. Kemenangan besar hanya diraih melalui solidaritas yang tinggi,” tutupnya. (A1)

Komentar