Perayaan May Day, KSBSI Fokus Aksi Solidaritas Kemanusiaan

Perayaan May Day, KSBSI Fokus Aksi Solidaritas Kemanusiaan

KSBSI.ORG Jakarta- Biasanya, setiap tahun dalam pada awal bulan Mei, buruh selalu merayakan hari buruh internasional atau dikenal ‘May Day’. Jutaan buruh di seluruh dunia akan turun ke jalan untuk menuntut hak dan kesejahteraan buruh, termasuk di Indonesia.

Baca juga:  DEN KSBSI Intruksikan , Aksi Buruh 30 April Dibatalkan , Jokowi Resmi Menunda Pembahasan RUU Ciptaker, Presiden KSBSI: Kebijakan Yang Positif,

Namun tahun ini, perayaan May Day tahun ini bisa dipastikan buruh tidak akan turun ke jalan melakukan demonstrasi. Sebab, masyarakat dunia hari ini sedang diancam pandemi Covid-19. Dunia medis sendiri pun belum menemukan vaksin dan obatnya.

 

Elly Rosita Silaban Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia memastikan KSBSI tahun ini tidak merayakan May Day yang sifatnya mengundang keramaian. Tidak seperti tahun sebelumnya, momen hari buruh pengurus federasi dan anggota punya agenda masing-masing merayakannya.

 

“Ada yang melakukan aksi demo, donor darah, diskusi dunia buruh dan bakti sosial,” ungkapnya, Jakarta, Selasa 28 April 2020.

 

Nah, walau tahun ini tidak dirayakan secara berkumpul, Dewan Eksekutif Nasional (DEN) KSBSI sudah menghimbau semua pengurus federasi dan anggota agar merayakannya dalam bentuk aksi solidaritas kemanusiaan. Seperti memberikan bantuan paket sembako kepada korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD) masker, hand sanitizer dan melakukan semprot disenfektan ke lingkungan masyarakat.

 

“Bertepatan di bulan Ramadhan, alangkah baiknya perayaan May Day tahun ini semua pengurus dan anggota melakukan aksi solidaritas kemanusiaan. Karena imbas Covid-19 banyak buruh yang terkena PHK dan dirumahkan, termasuk anggota KSBSI juga ada. Jadi mereka harus diperhatikan,” jelasnya.

 

Intinya ia meminta keluarga besar KSBSI tetap mematuhi anjuran dan larangan pemerintah untuk memerangi penyebaran Covid-19. Kalau tidak dipatuhi, Elly mengatakan virus yang mengancam manusia ini akan sulit diatasi.

 

“Hal yang harus kita lakukan harus tetap berpikir positif dan memperhatikan nasib anggota yang saat ini di PHK dan dirumahkan, termasuk THR mereka. Penyerahan bantuan sembako secara simbolis akan dilakukan oleh DEN kSBSI pada perayaan May Day ini,” lugasnya.

 

Hal senada juga disampaikan Dedi Hardianto Sekretaris Jenderal (Sekjen) KSBSI. Ia menyampaikan aktivis buruh harus tetap optimis membangun harapan ditengah situasi yang memprihatinkan ini. Dikatakannya, imbas Covid-19 jelas membuat lumpuhnya roda perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

 

“Kita tidak bisa berharap banyak pada pemerintah saat ini mengatasi persoalan buruh yang kena PHK dan dirumahkan dampak dari Covid-19. Jadi buruh harus bersikap dewasa, bukan menambah masalah,” tandasnya.

 

Ditambahkannya, langkah yang sudah dilakukan KSBSI sekarang ini masih terus mendata jumlah anggota yang terkena PHK dan dirumahkan oleh perusahaan. Nantinya, jika pandemi Covid-19 dinyatakan berakhir, DEN KSBSI akan berjuang melakukan advokasi kepada buruh yang sudah kehilangan pekerjaan.

 

“KSBSI mengambil langkah pemulihan dengan mengajak pemerintah dan pengusaha duduk bersama untuk berdialog mencari solusi. Agar 1 juta lebih buruh yang terpapar PHK dan dirumahkan bisa bekerja kembali,” tuturnya.

 

Dia ikut menegaskan KSBSI tahun ini tidak merayakan May Day tahun dengan tradisi seperti biasanya. Namun perayaan dilakukan dengan cara aksi solidaritas kemanusiaan. Sebab pemerintah sendiri sudah menyampaikan menunda sementara pembahasan omnibus law Rancangan Undang-undang Cipta Kerja (Ciker). Jadi buruh tidak perlu lagi mengancam aksi demo penolakan RUU Ciker.

 

“Mari kita rayakan May Day tahun ini dengan aksi solidaritas kemanusiaan, terus menggalang solidaritas dan mematuhi protokol kesehatan untuk memerangi Covid-19,” tutupnya. (A1)

 

 

Komentar