Rangkaian Perayaan May Day, KSBSI Fokus Aksi Bakti Sosial dan Menolak RUU Ciker

Rangkaian Perayaan May Day, KSBSI Fokus Aksi Bakti Sosial dan Menolak RUU Ciker

KSBSI.ORG: Jakarta - Pada perayaan May Day 2020 agak berbeda dari tahun sebelumnya. Sebab pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini membuat serikat buruh/pekerja menjadi sedih, karena tidak bisa merayakannya. Terutama buruh tidak bisa berekspresi dan melakukan orasi hak dan kesejahteraan. Serta kegiatan lainnya yang mengumpulkan banyak orang.

Baca juga:  Refleksi 28 Tahun KSBSI, Elly Rosita Silaban: Ambil Tantangan, Jangan Diam Digilas Zaman,

Elly Rosita Silaban Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) mengatakan agenda May Day tahun ini tetap merayakannya. Namun perayaan tidak melakukan aksi mengumpulkan banyak buruh.

“Perayaan May Day tahun ini KSBSI fokus agenda bakti sosial dengan memberikan sembako kepada masyarakat dan anggota kami yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan. Serta melakukan rapid test untuk 150 orang. Hari ini KSBSI juga memberikan penyerahan alat pelindung diri (APD)  ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo,” ujarnya, Jakarta, 1 Mei 2020.

Selain itu, ia menyampaikan akan melakukan zoom diskusi denga koordinator wilayah (korwil) KSBSI di 24 provinsi. Tema yang dibahas masalah buruh yang terkena PHK dan dirumahkan hingga persoalan tunjangan hari raya (THR).

“Hari ini federasi yang berafiliasi dengan KSBSI juga melakukan aksi bakti sosial diberbagai daerah,” terangnya.

Ia menyampaikan KSBSI tetap mengkonsolidasikan internal menyikapi penolakan omnibus law Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja  (RUU Ciker). Memang saat ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengintruksikan penundaan sementara RUU tersebut dimasa pandemi Covid-19..

“Nah kalau pada waktunya nanti RUU Ciker lanjut dibahas DPR, KSBSI bersama aliansinya sudah menyampaikan kepada presiden supaya ditarik dahulu dan meminta mengeluarkan Surat Keputusan (SK) untuk melibatkan Tripartit dalam pembahasannya dari awal,” tegasnya. 

Terkait kartu prakerja Elly juga sudah menyampaikan ke pemerintah agar istilah program tersebut dirubah menjadi bantuan langsung kepada buruh yang terkena PHK dan dirumahkan. Dan yang terpenting disuarakan KSBSI meminta pemerintah dan APINDO untuk melibatkan serikat buruh/pekerja mendesain kebijakan menyelamatkan buruh saat ini.

“Pengusaha harus membicarakannya dengan buruh dan jangan membuat keputusan sepihak yang pada akhirnya menimbulkan kesalahpahaman dikemudian hari,” terangnya.

Terakhir Elly mengatakan pemerintah harus memberikan paket stimulus kepada pengusaha untuk mempertahankan buruh yang tidak di PHK supaya daya beli tidak merosot. Intinya masalah  saat ini adalah beban yang harus dipikul bersama.

“Jadi dibutuhkan ide yang membangun secara bersama mencari solusi dan kesepakatan,” tutupnya. Buruh harus tetap berjuang ditengah ditengah Covid-19,” tutupnya.  (A1)

Komentar