Ketika Covid-19 Menghantui Negara Konflik Berkepanjangan

Ketika Covid-19 Menghantui Negara Konflik Berkepanjangan

KSBSI.ORG: Pandemi Covid-19 tak hanya menghantui negara maju dan berkembang. Wabah ini juga sudah masuk ke negara konflik berkepanjangan atau dikategorikan negara-negara paling tidak berkembang. Seperti Afghanistan, Somalia dan Yaman, wilayah ini dikenal daerah yang sangat rentan konflik senjata karena persoalan kekuasaan politik.

Baca juga:  THR Dicicil, Sekjen KSBSI : Ini Pelanggaran Hukum,

Belum usai menyelesaikan konflik, masyarakatnya pun rentan dengan kemiskinan, minimnya fasilitas pekerjaan formal dan informal, sehingga menyebabkan jumlah pengangguran yang tinggi. Dampak konflik berkepanjangan, masyarakatnya pun menjadi pengungsi ke negara yang aman.

 

Sehingga, ketika Covid-19 datang menghantui, mereka menjadi korban ganda. Satu korban konflik berkepanjangan, dua menjadi ancaman korban Corona ditengah status pengungsi (migran). Sehingga kemiskinan yang mereka hadapi semakin membawa dilema.    

 

Mito Tsukamoto Divisi Pengembangan dan Investasi Organisasi Perburuhan International (ILO) mengatakan dunia sekarang ini sedang menghadapi persoalan yang berat. Sebab imbas Covid-19 membuat roda perekonomian dunia melambat. Terlebih lagi, negara-negara kategori belum berkembang kemungkinan besar akan kesulitan bangkit mengatasi pandemi ini.

 

“Sangat dikuatirkan jika pandemi Covid-19 tidak berakhir, semakin memicu konflik yang meluas, sehingga bisa merusak proses perdamaian yang sedang dibangun. Karena sebelum adanya wabah ini, segala layanan kesehatan, pelayanan pemerintah dan pekerjaan sudah hancur,” jelasnya saat dilansir dari ilo.org.

 

Dia menjelaskan waktu wabah virus Ebola 2014 di Afrika sangat berdampak pada kerusuhan dan konflik muncul dibeberapa negara. Konflik tersebut terjadi karena Ebola ikut merusak roda perekonomian. Untuk itulah, langkah yang dilakukan ILO adalah, lembaga-lembaga dunia harus bisa memberikan jaminan bagi masyarakat korban konflik ditengah pandemi yang terjadi.  

 

“ILO sekarang ini sedang merumuskan konsep strategis jangka panjang, terutama menciptakan pekerjaan alternativ untuk masyarakat korban konflik agar tidak menimbulkan krisis berkepanjangan,” ujarnya.

 

Sebelumnya, pada Maret Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres sudah meluncurkan laporan, tentang penanganan pandemi Covid-19 melalui tanggung jawab dan solidaritas global.

 

Mito mengatakan laporan ini sangat sejalan dengan konsep Deklarasi Centenary ILO, untuk menciptakan ‘Masa Depan Kerja’. Kedua gagasan tersebut sangat baik dijalankan, terutama membantu negara-negara konflik perang, terutama memulihkan mata pencaharian masyarakatnya. Selain itu ILO memiliki pengalaman berharga di lapangan dengan menyampaikan respons sosial-ekonomi yang kompleks dan rumit yang diperlukan untuk membantu pekerja miskin. Melalui program unggulan untuk Pekerjaan untuk Perdamaian dan Ketahanan yang sudah beroperasi di lebih dari 30 negara.

 

Program ini berdasarkan Rekomendasi ILO No. 205, melalui pendekatan kerja padat karya. Dengan cara mempromosikan pengembangan ekonomi lokal dan sektor swasta dengan dukungan untuk wirausaha, koperasi dan bisnis. Intinya program yang dikembangkan mengedepankan dialog sosial, prinsip dan hak-hak mendasar ditempat kerja. (A1)

 

 

 

 

 

 

 

Komentar