Perubahan iklim telah memberikan dampak nyata bagi dunia kerja, mulai dari gangguan kesehatan dan keselamatan kerja akibat cuaca ekstrem, hingga ancaman hilangnya lapangan kerja pada sektor-sektor tertentu.
Baca juga: FORJET SP/SB Bertemu Dir Priority Action Programme Just Transitions di Jenewa,
KSBSI.ORG, Jakarta - Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) menegaskan kembali komitmennya untuk berperan aktif dalam menghadapi krisis iklim dengan terus mendorong terwujudnya Just Transition atau transisi yang adil bagi buruh/pekerja.
Hal ini disampaikan Presiden KSBSI, Elly Rosita Silaban pada konferensi pers yang digelar di sela kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) KSBSI di Oasis Amir Hotel Jakarta, pada Kamis, (14/08/2025).
Presiden KSBSI, Ibu Elly Rosita Silaban mengatakan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak nyata bagi dunia kerja, mulai dari gangguan kesehatan dan keselamatan kerja akibat cuaca ekstrem, hingga ancaman hilangnya lapangan kerja pada sektor-sektor tertentu.
"Transisi menuju ekonomi hijau adalah sebuah keniscayaan, namun prosesnya harus memastikan perlindungan hak-hak pekerja, menyediakan pelatihan dan keterampilan baru, serta menjamin keberlanjutan mata pencaharian. Itulah yang kami maksud dengan transisi yang adil." katanya.
Rakornas KSBSI 2025 ini mengusung tema "Memperkuat Gerakan Buruh untuk Menyongsong Era Pekerjaan Baru", dengan salah satu fokus utama membahas strategi serikat buruh dalam menghadapi krisis iklim. KSBSI terus mendorong kolaborasi Tripartit yakni antara pemerintah, pelaku usaha, dan serikat buruh untuk terus berperan aktif dengan,
1.Memastikan kebijakan iklim nasional selaras dengan perlindungan pekerja.
2.Mengintegrasikan program pelatihan keterampilan hijau (green skills) untuk tenaga kerja terdampak.
3.Menjamin dialog sosial yang inklusif dalam setiap kebijakan transisi energi dan industri.
4.Mendorong investasi ramah lingkungan yang juga membuka lapangan kerja layak.
KSBSI juga menyerukan agar pemerintah segera menyusun peta jalan transisi energi dengan memasukkan aspek perlindungan sosial, jaminan sosial ketenagakerjaan, dan standar upah layak bagi pekerja di sektor yang akan terdampak terhadapa perubahan iklim maupun transisi energi.
Presiden KSBSI juga berterimakasih kepada DTDA (Danish Trade Union Development Agency) yang mendukung pergerakan serikat buruh untuk memperjuangkan haknya di tempat kerja termasuk mengkampanyekan isu – isu global.
Dengan Rakornas KSBSI 2025 ini, KSBSI berharap dapat memperkuat solidaritas antar serikat buruh di seluruh Indonesia untuk bersatu dalam agenda lingkungan hidup dan ketenagakerjaan yang berkeadilan. (RED/Handi)

