Penutupan PLTU Teruel di Andorra, Jadi Simbol Transisi Energi yang Adil dan Berkelanjutan

Penutupan PLTU Teruel di Andorra, Jadi Simbol Transisi Energi yang Adil dan Berkelanjutan

Sri Rejeki saat berkunjung di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Andorra yang sudah dibumi hanguskan. Teruel, Spanyol – 23 September 2025

Langkah ini bukan hanya simbol pengurangan emisi karbon, tetapi juga contoh nyata pelaksanaan prinsip Just Transition, yakni transisi energi yang tidak meninggalkan pekerja dan komunitas lokal di belakang.

Baca juga:  Perjalanan Panjang Pertama Srikandi KIKES Ke Eropa ,

Teruel, Spanyol – 23 September 2025, Kegiatan hari kedua ITUC - UGT, semua peserta workshop melakukan perjalanan 5 jam perjalanan dari Madrid ke Andorra untuk berkunjung ke lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Andorra yang sudah dibumi hanguskan. 

Penutupan resmi Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Teruel di Andorra, Spanyol, menandai tonggak penting dalam perjalanan global menuju transisi energi bersih yang adil dan inklusif. Pembangkit berbahan bakar batu bara yang telah beroperasi sejak tahun 1979 ini dihentikan secara permanen sebagai bagian dari komitmen dekarbonisasi Spanyol dan Uni Eropa.

Langkah ini bukan hanya simbol pengurangan emisi karbon, tetapi juga contoh nyata pelaksanaan prinsip Just Transition, yakni transisi energi yang tidak meninggalkan pekerja dan komunitas lokal di belakang.

Sri Rejeki, yang merupakan representatif dari KSBSI hadir dalam forum internasional di Teruel, menyampaikan. "Penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Teruel bukan sekadar keputusan teknis, tetapi keberanian politik dan moral untuk mewujudkan transisi energi yang berkeadilan." ucapnya. 

Sri Rejeki menjelaskan bahwa pemerintah Spanyol dan operator energi Endesa menunjukkan bahwa dekarbonisasi bisa dilakukan tanpa mengorbankan pekerja. Mereka diberikan pelatihan ulang, kesempatan kerja baru, dan perlindungan sosial, itulah semangat just transition yang sesungguhnya.

Manfaat Penutupan PLTU Teruel

1. Lingkungan Lebih Bersih

    * Mengurangi emisi karbon tahunan secara signifikan, sejalan dengan target netral karbon Eropa tahun 2050.

    * Mengurangi polusi udara yang berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar.

2. Transformasi Ekonomi Lokal

    * Lahan bekas PLTU dialihfungsikan menjadi kompleks energi terbarukan: tenaga surya, angin, dan hidrogen hijau.

    * Proyek baru dengan kapasitas lebih dari 1.800 MW diperkirakan membuka ribuan lapangan kerja baru di sektor hijau.

3. Perlindungan Sosial dan Ketenagakerjaan

    * Program pelatihan ulang bagi pekerja PLTU dan tambang lokal.

    * Keterlibatan aktif komunitas lokal dalam proyek pembongkaran dan pembangunan fasilitas baru.

Dalam pernyataannya, Sri Rejeki juga menyoroti pentingnya menjadikan Teruel sebagai pelajaran berharga bagi Indonesia, yang juga tengah menghadapi tantangan dekarbonisasi sektor energi.

"Indonesia memiliki puluhan Pembangkit Listrik, jika dapat dilakukan hal yang sama untuk digantikan ke tenaga surya atau atau tenaga angin maka harus dipertimbangkan dengan kerangka just transition yang kuat, mengingat anggaran yang tidak sedikit, jutaan pekerja dan komunitas sekitar berisiko kehilangan mata pencaharian. Kita harus mulai dari menyusun peta jalan yang adil, melibatkan masyarakat lokal, dan memastikan transisi energi juga berarti transisi sosial dan ekonomi yang berpihak pada rakyat," tegasnya.

Ia juga mendorong agar Pemerintah Indonesia, melalui inisiatif seperti JETP (Just Energy Transition Partnership), benar-benar mengimplementasikan aspek keadilan sosial, bukan hanya fokus pada aspek teknis dan finansial.

Sri Rejeki mengajak para pemangku kepentingan di Indonesia, pemerintah, BUMN energi, swasta, LSM, dan masyarakat sipil untuk belajar dari Teruel dan membangun gerakan transisi energi yang berpihak pada manusia dan bumi.

"Just transition bukan agenda Eropa saja. Ini adalah agenda global, dan Indonesia tidak boleh tertinggal," tutup Sri Rejeki. (RED)

Komentar