ANGIN SEJUK DARI 100 TAHUN ILO

ANGIN SEJUK DARI 100 TAHUN ILO

KSBSI.org: Jenewa- Gaung perayaan 100 tahun Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO yang bergema dari arena Konferensi ILO ke 108 di Jenewa, Swis berlangsung sejak 9 Juni sampai 22 Juni 2010 di kantor pusat ILO dan PBB di Jenewa.

Baca juga:  FHUKATAN-KSBSI:Pertumbuhan Sawit Tidak Seiring Dengan Peningkatan Kesejahteraan Buruh, FSB NIKEUBA KSBSI Gelar Dua Agenda Pelatihan Secara Bersama di 2 Wilayah,

Boleh jadi delegasi Indonesia merupakan kontingen paling besar tahun ini sebagaimana disampaikan Menaker Hanif Dakhiri pada acara silaturahmi bersama delegasi Indonesia. 109 delegasi dimana 58 diantaranya pemerintah dari lintas institusi. Delegasi serikat sendiri berjumlah 19 orang berasal dari 6 konfederasi dimana 5 diantaranya bersalah dari KSBSI.   

Komite Penghapusan Pelecehan dan Kekerasan dan Pelecehan di dunia kerja menjadi salah satu produk andalan yang digodok dalam konferensi ini. Draft yang sudah dibahas di 2 kali Konferensi ILO 2 tahun ini menjadi andalan buruh untuk menjadi instrument baru di level internasional.

Bagi 5 orang delegasi KSBSI: Sulistri, Rekson Silaban, Maria Emeninta, Emma Liliefna dan Elly Rosita, peran di ILC ini tidaklah mudah seperti dibayangkan banyak orang. Perbedaan waktu, Bahasa, makanan, udara atau waktu sidang yang panjang sampai jam 10 malam- 3 hari belakangan bahkan sampai jam 12 malam sangat melelahkan namun cukup membanggakan karena terlibat sangat aktif di berbagai kegiatan, baik di sidang pleno, sidang komite, side event, seminar dan rapat-rapat bahkan di berbagai wawancara media.

Yang cukup menarik dari konferensi kali ini adalah pembahasan draft konvensi ILO tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja. Pembahasan yang sangat alot dalam sidang komite menjadi warna yang sangat menarik setiap hari, terutama perdebatan kelompk pengusaha dan buruh yang hampir selalu berseberangan. Sebut saja artikel-artikel kontroversial tentang Daftar kelompok rentan yang perlu dilindungi dalam salah satu pasal. Kelompok pengusaha sangat berkeras penyebutan LGBTQI (red: Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer and Interseksual) disebut dalam rekomendasi. Perdebatan Panjang dan lama terjadi atas topik ini. Tentu ada fenomena menarik di balik ini karena terindikasi sebagai taktik kelompok pengusaha menggagalkan konvensi ini. Patut diingat pada konferensi ILO tahun lalu, kelompok negara-negara Afrika sangat menolak bahkan walk out dari ruang sidang bila issu LGBTQI disebut dalam konvensi ini. Sikap yang sama tahun ini bahkan didukung lebih banyak negara, termasuk Indonesia. Kelompok buruh dapat membaca kalau hal demikian bisa menggagalkan munculnya konvensi baru ini sehingga walaupun dalam kampanye koalisi di banyak negara mendukung issu ini tapi dari 8 jumlah hak suara buruh sepenuhnya menolak Daftar kelompok rentan dimasukkan dalam instrument ini. Sikap yang cerdas, karena dari 122 pemerintah negara yang hadir, mayoritas menolak hal tersebut.

Perjuangan tentu tidak cukup hanya sampai disana. Konvensi hanya akan berkekuatan mengikat bila negara anggota PBB meratifikasinya menjadi sebuah aturan nasional. Oleh karena itu semua pihak harus tetap mendorong pemerintah untuk melakukannya. Segera!!!! (*/m-e)

Komentar