Laporan Evaluasi Migran Recruitmen Advisor dari Bahrain

Laporan Evaluasi Migran Recruitmen Advisor dari Bahrain

KSBSI.org: Beberapa waktu lalu, ITUC bersama serikat buruh afiliasinya dan didukung ILO Recruitment Initiative melakukan evaluasi Inter-Regional Meeting Of Air Recruitmen On Migrant Workers dan Evaluasi Migran Recruitmen Advisor (MRA) di Negera Bahrain. Tepatnya forum itu melakukan evaluasi tentang pemantauan perusahaan jasa tenaga kerja. Tepatnya agen perusahaan calon buruh migran atau PPTKIS/PJTKI/P3MI. Peserta yang mengikuti agenda evaluasi itu terdiri dari perwakilan Negara Nepal, Indonesia, Philipina, Qatar, Saudi Arabia, Hongkong, Malaysia, Singapore dan negara-negara lain.

Baca juga: 

Yatini Sulistyowati Focal Point KSBSI yang mengikuti agenda tersebut menjelaskan pembahasan yang dilaksanakan dua hari itu banyak menghasilkan gagasan dan keputusan. Diantaranya, mengajak buruh migran berpartisipasi memahami hak perlindungan mereka ketika mengunakan jasa perusahaan Pengerah Tenaga Kerja (Agen) saat bekerja di luar negeri.

Selain itu, evaluasi yang dilakukan juga membahas tentang masing-masing 4 negara yang menjadi pilot project recruitmentadvisor seperti negara Indonesia, Malaysia, Nepal dan Philipina. Serta dan pengalaman kerjasama antar negara yang melibatkan serikat buruh dan organisasi migran lainnya di negara tujuan. Recruitmen advisor juga mempromosikan fair rekrutmen untuk mengurangi kerentanan pengerahan tenaga kerja yang unprosedural dan mempromosikan bermigrasi yang aman.

Pada pembahasan evaluasi hari pertama yang dihadiri 27 perwakilan dari Indonesia, Philipina, Nepal, Malaysia, Jordan, Srilangka, Bahrain, Kenya, ILO Bairut, ITUC, MFA, Hongkong, ILO Geneva, Oman. Pembukaan acara dilakukan oleh ITUC dan Geneal federation Bahrain Trade Union (GFBTU) sebagai tuan rumah. Kemudian hasil evalusi itu menghasilkan keputusan:

Garis Depan Kampanye dengan 4 Pilar untuk melakukan aksi di tahun 2019:

1.      Pilar Perdamaian, demokrasi dan hak dengan tujuan memberikan ruang demokarasi yang ditujukan kepada buruh migran secara universal dan bergaransi, serta menghilangkan perbudakan dan memberikan hak-hak buruh migant serta mengakui peran serta Serikat Buruh dalam perdamaian dunia.

<!-- [if !supportLists]-->2.      <!--[endif]-->Pilar Mengatur kekuatan ekonomi dengan tujuan membuat kontrak social yang baru dengan jaminan dasar tenaga kerja yang berstandar bisnis digital dengan layanan public dan pajak yang adil yang didasarkan perjanjian PBB tentang bisnis dan hak asasi manusia, Konvensi ILo tentang supply Chains dan reformasi multilateral hak-hak buruh serta partisipasi Serikat Buruh.

 

<!-- [if !supportLists]-->3.      <!--[endif]-->Pilar Transisi Global dan Transisi yang adil bertujuan ambisi iklim yang melibatkan partisipasi Serikat Buruh yang kuat untuk melakukan rencana iklim nasional, yaitu dengan standart global untuk tata kelola bisnis dengan flatform digital, perlindungan pengawasan dan kontrol pekerja atas data serta aturan pajak untuk bisnis digital.

<!-- [if !supportLists]-->4.      <!--[endif]-->Pilar Kesetaraan dengan tujuan integrasi ekonomi secara adil terhadap perempuan pada angakatan kerja dan pemberatantasan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja, Serikat Buruh harus menentang diskriminasi dan inklusi serta meningkatkan representasi pekerja agar tidak meminggirkan pekerja perempuan dari serikat buruh.

Intinya adalah promosi MRA yang berbasis digital dan harus mengkondisikan dengan revolusi industry 4.0 dan dapat diakses oleh semuatanpa ada perbedaan jenis kelamian.

Sessi kedua : (1) Informasi tentang MRA (www.recruitmentadvisor.org) tujuan MRA mempromosikan perikrutan yang adil, memastikan buruh migran bermigrasi dengan aman dan mengurangi kerentanan pengerahan tenaga kerja (2) konen MRA website (3) MRA itu di design secara online dan peer to peer artinya dari buruh migran untuk buruh migran lagi dengan saling berkontrubusi dalam dalammemberikan informasi yang kemudia dapat diakses kembali oleh buruh migran yang lainnya.

Sessi ke tiga : berbagi pengalaman atas keberhasilan dan tantangannya selama menjalankan MRA dari 3 negara inisitaor MRA yaitu Nepal, Philipina dan Indonesia, masing masing negara memiliki kelebihan dan tantangannya sendiri kemudian di teruskan dengan prinsip prinsip dasar oprasional dan guidelines untuk perikrutan yang adil dan bekermanusiaan dan bebas dari pungutan ddari agen dan biaya-biaya yang seharusnya tidak dibebankan oleh Buruh migran berdasarkan konvensi ILO No. 181

Pada hari kedua ILO ROAS, yang berkedudukan di Beirut, membagikan informasi tentang bagaimana cara-cara menangani kasus di kawasan Arab; terkait dengan ILO core standart dan resolusi penyelesaian maslah dan akses terhadap keadilan, kemiripan dan perbedaaan pada perselisihan dengan sistem resolusi di kawasan Arab.

Kemudian diteruskan dengan Update MRA, bahwa pada fase kedua ada penambahan beberapa negara yang menjadi target group MRA dimana negara negara penerima Buruh MIgran di Kawasan Arab menjadi target utama karena banyak perubahan yang signifikan dalam melakukan perombakanaturan dan kebijakan yang menyangkut perlindungan terhadap buruh migran di kawasan ini. Dan bagaimana meningkatkan kerjasama/kolaborasi antara anggota ITUC dengan partner MRA.

Kemudian pelatihan website, bagaimana mengunakan website MRA, manangement dan aturan website MRA, Ira mengajak semua peserta untuk memulai dengan latihan, bagi 4 negara yang menginisiasi Website ini tentu tidak kesulitan, latihan ini diajarkan bagi peserta atau negara yang baru bergabung dengan MRA, bagaimana cara mengupload review offline, atau single review, pdate agencies, update aturan atau hukum di negara setempat, dan bagaimana menga konter jika ada review palsu. Dan cara membangun kampanye yang strategies, mengoptimalisasikan kampanye secara online dan membangun kerjasama kampanye bersama-sama dengan organisasi-organisasi lain.

Lalu informasi bagi implementasi MRA yang kedua yaitu negara Malaysia,Kenya, Srilangka dan Jordan, MRA bukan hanya sebagai alat tetapi juga menjadi sarana kerjasana antar negara asal dan negara tujuan.

Contohnya adalah Malaysia meng advokasi kasus buruh migran asal Indonesia, Nepal, Philipina atas pengaduan dari organisasi dibawah MRA, dan di Malaysia juga menjadi ajang recruitmen anggota, buruh migran bergabung dengan Serikat Buruh, dengan penterjenahan yang dilakukan KSBSI, MTUC mampu merikrut anggota dari buruh migran mencapai 300?ri sebelumnya. Kenya mengunakannya dengan melakukan Fosus Grup Discusion (FGD) bertemu dengan keluarga-keluarga buruh migran dan mengajak mereka bergabung dengan serikat buruh. (red)

Komentar