Berita: pressrelease


Tanggapan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Terhadap Penundaan Pembahasan Klaster Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

Tanggapan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Terhadap Penundaan Pembahasan Klaster Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

KSBSI.ORG:Jakarta-Hari ini, Jumat, 24 April 2020, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo telah menyampaikan pernyataan resmi tentang penundaan pembahasan Omnibus Law Klaster Ketenagakerjaan yang termuat dalam RUU Cipta Kerja.


OMNIBUS LAW DARI CILAKA KE PETAKA

OMNIBUS LAW DARI CILAKA KE PETAKA

KSBSI.ORG: Sehubungan dengan Draft RUU Cipta Kerja yang telah diserahkan oleh Pemerintah RI kepada DPR RI, setelah kami pelajari secara cermat dan seksama KSBSI memutuskan menolak RUU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan tersebut dengan 3 alasan pokok sebagai berikut:


Press Release

Press Release

Gerakan Melawan Lima Belas Januari (GEMA LARI )

 

KSBSI Ajukan 4 Tuntutan Dalam RUU Cipta Lapangan Kerja

Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia dalam menyikapi Omnibus law tentang RUU Cipta Lapangan Kerja yang diusulkan oleh Pemerintah, mengajukan 4 (empat) tuntutan besar, yaitu:

 

1. Keluarkan Klaster Ketenagakerjaan dari RUU Cipta Lapangan Kerja

2. Tolak Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

3. Tolak Upah Per-Jam

4. Segera Bentuk Tim Khusus Klaster Ketenagakerjaan.

Presiden KSBSI Elly Rosita Silaban menyampaikan aksi tersebut akan dilakukan di 24 Propinsi pada tanggal 15 Januari 2020 dengan sebutan GEMALARI secara serentak di seluruh Indonesia, untuk Jabotabek aksi akan dipusatkan di Istana Negara dan di daerah - daerah akan dipusatkan di kantor Gubernur, Walikota dan Bupati di seluruh Indonesia, dengan estimasi massa berjumlah 330 ribu buruh seluruh Indonesia.

 

Adapun alasan KSBSI turun ke jalan memprotes rencana RUU Cipta Lapangan Kerja, ada 5 hal, yaitu :

 

Pertama : Serikat Buruh/Serikat Pekerja Tidak Dilibatkan Dalam Pembahasan RUU Cipta Lapangan Kerja tersebut,padahal RUU tersebut membahas issue - issue Ketenagakerjaan.

 

Kedua    : Bentuk Hubungan Kerja yang berlaku haruslah dalam bentuk PKWT dan PKWTT.Hubungan kerja ini harus diberlakukan dalam era industri digital (online) yang sedang menjamur saat ini.

 

Ketiga   : Menolak diberlakukannya system Upah per jam dalam pengupahan. Upah Minimum sebagai safety net harus dipertimbangkan dalam penetapan sistem pengupahan.

 

Keempat :  RUU ini harus mempertimbangkan keberlangsungan seluruh program jaminan sosial (BPJS Kesehatan & Ketenagakerjaan) sebagai program wajib bagi seluruh pekerja/Buruh.

 

Kelima   : RUU ini harus memastikan terciptanya pekerjaan layak (Decent Work) dan upah layak (decent wage) untuk mendukung pendapatan negara melalui pajak.

 

Seharusnya RUU Cipta Lapangan Kerja (CILAKA) ini harus dapat merampingkan dan menyederhanakan keberadaan Undang - Undang yang tumpang tindih yang merupakan penyebab masalah sistem perundang - undangan yang ada.

 

KSBSI mendukung program pemerintah dalam pembangunan perekenomian Nasional terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi tingkat pengangguran. Akan tetapi proses pembuatan RUU CILAKA yang tidak mengikutsertakan Serikat Buruh dalam proses pembahasan pembuatan RUU ini sangat kami sesalkan, padahal sebagai stakeholder pembangunan perekonomian bangsa, posisi serikat buruh sangat strategis dalam memberikan masukan yang komprehensif bagi pemerintah. KSBSI mengusulkan pemerintah untuk segera membuat Omnibus Law khusus Ketenagakerjaan, untuk penciptaan hubungan industrial yang harmonis dan berkesejahteraan sebagai salah satu Penggerak perekonomian bangsa.

 

Oleh karena itu KSBSI  bergerak dalam  “Gemalari” dan menolak keberadaan RUU Cipta Lapangan Kerja (CILAKA). Serikat Buruh Bersatu..Buruh Sejahtera.

 

Jakarta, 15 Januari 2020

 

Dewan Eksekutif Nasional KSBSI

 

Elly Rosita Silaban, S.E.

Presiden


Dedi Hardianto, S.H.  

Sekjend


 

 


Statemen Lomenik

Statemen Lomenik

Seruan Tolak Omnibus Law

Omnibus adalah undang-undang yang diusulkan yang mencakup sejumlah topik yang beragam atau tidak terkait. Omnibus berasal dari bahasa Latin dan berarti "untuk segalanya"


Press Release

Press Release

30   SEPTEMBER KSBSI BERGERAK

Kenapa KSBSI harus turun ke jalan. !!!

KSBSI adalah organisasi gerakan„,ketika KSBSI bergerak pasti ada persoalan yang terjadi dan sudah sangat mengganggu anggota dan masyaraka pada umumnya


“RATIFIKASI KONVENSI ILO 190 MENJADI REGULASI YANG LEBIH BERMARTABAT      BAGI INDONESIA”

“RATIFIKASI KONVENSI ILO 190 MENJADI REGULASI YANG LEBIH BERMARTABAT BAGI INDONESIA”

KSBSI.org: Jakarta,Sebagai bentuk pengawalan terhadap penetapan standard setting ILO atas Kekerasan Berbasis Gender (Gender Based Violence), beberapa elemen pemerhati issu gender yang terdiri dari unsur serikat pekerja/buruh dan LSM bergabung dalam Aliansi Stop Kekerasan, Diskriminasi dan Pelecehen di Dunia Kerja dan sejak 2 tahun lalu secara simultan terus mengawal proses pembahasan hingga akhirnya standard tersebut sah diadopsi pada Konferensi ILO ke 108 Juni 2019 lalu menjadi Konvensi ILO No 190 bertajuk Penghapusan kekerasan dan Pelecehan Di Dunia Kerja


KONSOLIDASI INTERNAL KSBSI SULSEL MENYAMBUT REVOLUSI  INDUSTRI 4.0

KONSOLIDASI INTERNAL KSBSI SULSEL MENYAMBUT REVOLUSI INDUSTRI 4.0

KSBSI.org: Makassar, 4 Mei 2019 - Belum lagi bernafas lega karena era globalisasi yang memukul gerakan buruh sepuluh tahun terakhir, dunia ketenagakerjaan diperhadapkan dengan kehadiran era baru industri 4.0. Era digital, perdagangan elektrik, transport daring, jasa online, semua itu gambaran dunia baru yang berpotensi besar merubah dunia industry di Indonesia Hal tersebut dibahas dalam Pelatihan Kepemimpinan serikat buruh (LTC) KSBSI provinsi Sulawesi Selatan yang berlangsung di hotel Ocean View, Makassar pada tanggal 2 sampai dengan 4 Mei 2019.