Bayang-Bayang RUU Ciker Ditengah Melemahnya Kekuatan Buruh

Bayang-Bayang RUU Ciker Ditengah Melemahnya Kekuatan Buruh

KSBSI.ORG: Jakarta - Markus Sidauruk Deputi Bidang Pendidikan Dewan Eksekutif Nasional Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (DEN KSBSI) menyampaikan posisi tawar serikat buruh/pekerja di Indonesia sedang melemah. Alasan melemahnya kekuatan gerakan buruh karena banyak mengalami konflik internal organisasi. Sehingga terjadi perpecahan serta berdampak pada penurunan kualitas anggota.

Baca juga:  DPP FSB GARTEKS Desak Pemerintah Cabut SE THR 2020,

Oleh sebab itulah, dia berharap agar semua serikat buruh/pekerja segera melakukan  evaluasi dan tidak memperpanjang konflik yang banyak menghabiskan energi dan waktu. Sebab ancaman buruh hari ini semakin nyata yang ingin  memberangus serikat buruh/pekerja dan hak kesejahateraan buruh.

Salah satu ancaman yang didepan mata adalah omnibus law Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciker). Masalah ini, dianggapnya tidak boleh main-main lagi dan buruh/pekerja harus melakukan konsolidasi sampai ke akar rumput.

“Jadi kita tidak lagi terjebak perpecahan dan kepentingan. Sehingga sulit menyatukan kekuatan ketika kepentingan buruh terancam,” ungkapnya beberapa waktu lalu, ketika diwawancarai di Kantor KSBSI, Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Ia menjelaskan KSBSI saat ini sudah menghidupkan kembali aliansi Majelis Perwakilan Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) yang dulunya sempat vakum.  Tujuan dihidupkannya kembali MPBI memang untuk memperkuat posisi tawar dan menolak RUU Ciker yang tidak berpihak pada kepentingan buruh.  

“Kalau tidak ada dibangun kekuatan lintas serikat buruh/pekerja, posisi buruh sangat rapuh dan gampang diberangus oleh kepentingan pengusaha nakal,” ungkapnya.

Selain membangun kekuatan aksi massa, dia berharap agar serikat buruh/pekerja harus mampu merumuskan ide dan gagasan masa depan dunia ketenagakerjaan. Sebab, gagasan konsep salah satu strategi untuk mempengaruhi publik untuk memenangkan kepentingan.

Terkait RUU Ciker yang sedang ditunda sementara, KSBSI bersama MPBI sudah mendesak agar RUU ini segera di evaluasi. Pemerintah harus berani mengkaji ulang RUU Ciker yang bermasalah ini dan memfasilitasi perwakilan serikat buruh/pekerja dan pengusaha untuk duduk bersama. Lalu membuat draft RUU Ciker baru  yang berkualitas.  

Selain itu, langkah gerakan yang akan diambil KSBSI menyikapi RUU Ciker tak hanya ditahap nasional saja. Membangun jaringan ke internasional melalui International Labor Organization (ILO) pun sudah dilakukan dengan melakukan lobi, supaya mendesak pemerintah mengevaluasi RUU Ciker.

“Kalau RUU Ciker dipaksa untuk disahkan dampaknya sangat tidak baik ke dunia internasional, salah satunya masalah LKS Tripartit dan penghilangan hak kerja layak dalam perusahaan,” ungkap Markus.

Intinya dia mengatakan kalau RUU Ciker bisa diterima oleh serikat buruh/pekerja maka syaratnya harus duduk bersama dan pasal-pasal yang dirancang harus bisa menciptakan lapangan kerja yang sebesar-besarnya. Namun tidak ada merugikan masa depan buruh. (A1)

Komentar