DPC FSB GARTEKS Kota Medan Desak Polisi Jangan Diskriminasi Hukum Terhadap 2 Anggotanya

DPC FSB GARTEKS Kota Medan Desak Polisi Jangan Diskriminasi Hukum Terhadap 2 Anggotanya

KSBSI.ORG: Jakarta- Paraduan Pakpahan Ketua DPC Federasi Serikat Buruh (FSB) Garteks Kota Medan Sumatera Utara mengatakan kasus penganiayaan yang menimpa anggotanya buruh Satpam di Yayasan Apindo Sumatera Utara (YASU) di Kabupaten Serdang Bedagai harus berpihak pada keadilan. Pasalnya, dua anggotanya yang bernama Suprat Yono dan Zainudin Leo Sinaga saat ini sudah ditetapkan tersangka oleh Polres Serdang Bedagai.

Baca juga:  KSBSI Berkomitmen, Judical Review UU Cipta Kerja di MK Akan Berkualitas, Tolak UU Cipta Kerja, DEN KSBSI Intruksikan 12-16 Oktober Turun ke Jalan, 6 SP/SB Konsisten Berada di Tim Teknis Pembahasan RUU Omnibus Law Klaster Ketenagakerjaan,

Dia menilai, kejadian yang menimpa anggotanya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kalau perampasan keadilan ini tidak disikapi secara tegas, dampaknya bisa tidak baik terhadap masa depan serikat buruh dan masyarakat. Oleh sebab itulah, dia berharap ketika kedua korban sudah mempercayakan pendampingan hukum tersebut dikawal oleh tim LBH KSBSI, masalah ini bisa diselesaikan dengan baik.

“Kami bersama tim LBH Hukum KSBSI sudah melaporkan masalah kedua korban ke Biro Warsidik Mabes Polri. Saya berharap pihak kepolisian bisa mengawal kasus ini supaya terang benderang. Karena sangat tidak adil, anggota kami yang menjadi korban penganiayaan justru ditetapkan tersangka,” ungkapnya, Jakarta, Rabu 29 Juli 2020.

Paraduan juga mengatakan terkait penganiayaan yang menimpa anggotanya ini akan segera di koordinasikan ke Polda Sumatera Utara. Dalam waktu dekat ini, dia bersama serikat buruh/pekerja lainnya akan berusaha menjumpai Kaploda Sumut untuk menyampaikan persoalan yang terjadi. Ia berharap kalau nantinya bisa bertemu pak Kapolda Sumut, beliau bisa membantu mencarikan solusi.

“Kami berharap, polisi harus bertindak adil dan tidak melakukan diskriminasi hukum. Karena kami sebagai pihak korban sudah punya bukti kuat bahwa kelompok Bambang Suondo yang memulai pemukulan dan pengeroyokan yang jumlahnya kurang lebih 50 orang. Jadi sudah seharusnya kedua anggota kami status tersangkanya segera dicabut,” jelasnya.  

Kronologisnya Suprat Yono dan Zainudin Leo Sinaga pada 1 Juni 2020 lalu kedua korban sedang melakukan rutintas tugas. Namun tanpa disangka, mereka bertemu oleh sekelompok orang yang jumlahnya kurang lebih 50 orang dengan mengatasnamakan kelompok tani Gapoktan Naga dibawah komando Bambang Suondo.

Suprat juga mengatakan dia bersama Zainudin mengaku langsung dikeroyok sampai babak belur. Ketika dikeroyok, kedua korban pun mengaku tidak mengetahui latar belakang persoalan yang terjadi.  Setelah pengeroyokan usai, akhirnya kedua korban didampingi pihak perusahaan melaporkan penganiayaan ini ke Polsek Polsek Pantai Cermin Serdang Bedagai dengan Nomor Laporan: SP.Lidik/183/VI/2020/Reskrim, tanggal 1 Juni 2020. 

Setelah membuat laporan, Suprat juga mengatakan pihak kepolisian menyarankan segera membuat visum, untuk memperkuat bukti korban penganiayaan. Selain visum, kedua korban pun segera dilarikan ke rumah sakit Royal Prima. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Suprat mengalami pergeseran tulang belakang serta retak pada kaki.

Sehingga dia terpaksa harus di opname di salah satu rumah sakit selama 9 hari. Begitu juga dengan Zainudin, akibat penganiayaan tersebut  dia mengalami luka memar bagian muka dan leher. Anehnya, ketika kedua korban menjalani perawatan medis, justru pihak yang melakukan pengeroyokan, melaporkan kejadian yang sama di Polres Serdang Bedagai. Seolah-olah mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh kedua korban dengan Nomor Laporan Polisi No. LP/188/VI/2020/SU/RES-SERGEI, tanggal 1 Juni 2020.

Berdasarkan tembusan surat dari Kasat Reskrim Polres Serdang Bedagai Nomor: B/109/VII/2020/Reskrim, pada 8 Juli 2020, Suprat dan Zainudin justru diperiksa, dengan dugaan melakukan tindak pidana penganiayaan sebagaimana dimaksud pasal 351 ayat (1) KUHP.

Mirisnya, 10 hari kemudian, 18 Juli 2020 pihak Polres Serdang Bedagai lewat Nomor Sp.gl/263/VII/Reskrim dan Nomor Sp.gl/264/VII/2020/Reskrim, memanggil Suprat dan Zainudin tiba-tiba ditetapkan tersangka atas kejadian yang terjadi. Tentu saja, penetapan sebagai tersangka itu membuat kedua korban keberatan, karena keadilannya merasa telah dirampas. (A1)

Komentar